leadecomph.com – Kasus kekerasan antar pelajar kembali terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang siswa SMK Negeri 2 Kendari berinisial AM (15) menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok pelajar dari sekolah lain. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka di kepala hingga harus mendapatkan perawatan medis.Peristiwa ini terjadi saat korban hendak pulang ke rumah usai mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Kejadian tersebut pun telah dilaporkan ke pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut.
Read More : Gempa 5,8 Sr Guncang Poso, 2 Warga Tewas & Puluhan Luka
Kronologi Kejadian Pengeroyokan
Menurut keterangan kakak korban berinisial NR, insiden pengeroyokan terjadi pada Rabu (4/2/2026) sore. Lokasinya berada di jalan poros Kelurahan Tobuuha, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari.Saat itu, AM bersama satu temannya sedang mengendarai sepeda motor menuju rumah. Namun, di tengah perjalanan, mereka tiba-tiba dihadang oleh sekelompok pelajar yang diduga berasal dari sekolah lain.
โMereka mau pulang, tiba-tiba ditahan sama para pelaku,โ ujar NR saat diwawancarai.Tanpa banyak bicara, para pelaku langsung melakukan pengeroyokan terhadap korban dan temannya.
Korban Diserang dengan Ikat Pinggang
NR menjelaskan bahwa jumlah pelaku diperkirakan mencapai sembilan orang. Mereka menyerang korban secara bersama-sama, sehingga AM tidak sempat melawan.Dalam kejadian tersebut, salah satu pelaku menggunakan ikat pinggang sebagai alat pemukul. Gesper ikat pinggang tersebut mengenai kepala korban hingga menyebabkan luka cukup serius.
โLuka di kepalanya kena besi ikat pinggang, sampai bocor,โ jelas NR. Akibat luka tersebut, korban mengalami pendarahan dan harus mendapatkan perawatan medis.
Baca juga: iPhone 16 Resmi Dapat Sertifikasi Postel dari Komdigi
Kasus Sudah Dilaporkan ke Polisi
Pihak keluarga tidak tinggal diam atas kejadian ini. Mereka telah melaporkan kasus pengeroyokan tersebut ke kepolisian setempat agar para pelaku bisa diproses sesuai hukum yang berlaku. Keluarga berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap motif dan identitas para pelaku. Selain itu, mereka juga ingin kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama di lingkungan pelajar.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya peran sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mencegah kekerasan remaja. Diharapkan, dengan penanganan serius dari pihak berwenang, lingkungan pendidikan di Kendari bisa kembali aman dan kondusif bagi para siswa.