leadecomph.com – Kematian Muhammad Rehan Ramadhan (20) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sempat mengundang tanda tanya besar. Awalnya, banyak pihak mengira Rehan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Namun, setelah penyelidikan mendalam, polisi mengungkap fakta mengejutkan: Rehan ternyata menjadi korban pembunuhan. Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena bermula dari kesalahpahaman. Korban sempat diteriaki maling, dikejar massa, hingga akhirnya kehilangan nyawa secara tragis.
Read More : Helikopter Tni Jatuh Di Sulawesi Utara Tim Evakuasi Dikerahkan
Kronologi Penemuan Jenazah Rehan
Kasus ini bermula pada Jumat malam, 5 September 2025, saat Rehan ditemukan tewas di Jalan Angkasa, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Kondisinya saat itu cukup mengenaskan dan membuat warga menduga korban mengalami kecelakaan tunggal.
Beberapa pemuda diketahui mengejar Rehan sambil meneriakinya maling. Situasi menjadi tidak terkendali hingga berujung pada kekerasan. Polisi yang datang ke lokasi langsung melakukan penyelidikan dan mengamankan 10 orang untuk dimintai keterangan. Menurut aparat, masing-masing pelaku memiliki peran, mulai dari meneriaki, mengejar, hingga melakukan penganiayaan.
Polisi Ungkap Fakta, Rehan Tewas Akibat Tikaman
Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, kemudian mengungkap hasil penyidikan. Ia memastikan bahwa Rehan meninggal bukan karena kecelakaan, melainkan akibat luka tikaman di bagian tubuhnya. Hasil visum menunjukkan adanya tanda-tanda penganiayaan. Dari penyelidikan tersebut, polisi menetapkan tiga orang sebagai pelaku utama penikaman.
Dua tersangka, Kevin Arielson alias Kevar dan Tedi Roni Pathatan, lebih dulu diamankan. Sementara satu pelaku lainnya, Renaldi Fitra Valencia Aksa, sempat buron selama enam bulan sebelum akhirnya ditangkap di Mimika, Papua Tengah. Dengan tertangkapnya seluruh pelaku, pihak kepolisian memastikan tidak ada lagi tersangka yang berkeliaran.
Baca juga: iPhone 16 Resmi Dapat Sertifikasi Postel dari Komdigi
Duduk Perkara, Awal Mula Rehan Diteriaki Maling
Sebelum kejadian, Rehan diketahui menjemput temannya, Fathir, untuk berkunjung ke rumah seorang teman di kawasan Panaikang. Namun, mereka justru berputar-putar di sekitar Jalan Angkasa. Di lokasi tersebut, mereka dicurigai oleh seseorang. Fathir yang merasa takut langsung memacu motor untuk pergi. Sayangnya, massa sudah mulai berdatangan dan mengejar mereka.
Bahkan, ada yang melempar batu hingga motor yang dikendarai Fathir menabrak tiang. Fathir berhasil melarikan diri, sementara Rehan tertinggal di lokasi kejadian. Saat Fathir kembali, ia mendapati Rehan sudah tergeletak bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.
Pelajaran dari Kasus Kematian Rehan
Kasus kematian Rehan di Makassar menjadi pengingat penting tentang bahaya main hakim sendiri. Kesalahpahaman yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara baik-baik justru berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menghadapi situasi mencurigakan dan selalu mengedepankan hukum. Dengan begitu, kejadian serupa tidak terulang di masa depan.