Perlindungan di Ruang Digital, Menkomdigi Tegaskan Tak Larang Anak Main YouTube

PORTALTERKINI, Jakarta – Menteri Komunikasi dan Menteri Digital (Menkomdigi) Moibera Hafid bersikeras bahwa mereka tidak mencegah anak -anak bermain di jejaring sosial, seperti YouTube, Tak, dll. Pemerintah ingin memastikan bahwa anak -anak dikendalikan di jejaring sosial. 

“Kami tidak melarang anak -anak untuk membuka YouTube atau platform lain. Tetapi kami ingin memastikan bahwa mereka tidak memiliki akuntansi mereka sendiri tanpa pengawasan. Ini adalah masalah tanggung jawab, bukan pembatasan,” kata Matytia, dikutip pada hari Senin (3/3/2025). 

Waiting menemukan bahwa Kementerian Komunikasi dan Informasi melakukan penelitian dalam duel dan indikator kontrol negara -negara seperti Australia dan Inggris. Intinya bukan hanya bahwa kerja sama juga ditetapkan dengan UNICEF, para ilmuwan dan ahli untuk merumuskan kebijakan yang kuat dan bertarget untuk melindungi anak -anak di tempat digital.  

Fifi Alade Yahya, Direktur Umum Publik dan Media -Komunikasi, percaya bahwa satu kompetensi digital tidak cukup untuk memperkuat anak -anak dari negatif di internet. Untuk pekerjaan yang efektif, aturan ketat diperlukan.  

“Banyak orang tua tidak dapat menemani anak -anak mereka di dunia digital. Peran pemerintah sangat penting di sini,” kata Fihi.  

Komdigi baru saja berkolaborasi dengan salah satu media untuk memperkuat pengawasan anak -anak di ruang digital. Komandan berharap bahwa langkah ini dapat lebih menyadari pentingnya melindungi anak -anak di ruang digital yang lewat.

Sebelumnya, aturan baru yang terkait dengan perlindungan anak -anak di ruang digital dipertimbangkan. 

Salah satu arah utama adalah untuk menetapkan pembatasan terkait usia pada platform digital untuk melindungi anak -anak dari risiko tinggi.

Menteri Komunikasi dan Menteri Digital (Menkomdigi) aturan tentang perlindungan anak -anak yang hafid anak -anak di ruang digital sudah termasuk dalam hukum baru (hukum). 

Peraturan saat ini dibahas dalam bentuk proyek regulasi (RPP), dan kemudian menambahkan sejumlah aturan RPP sebelum diadopsi.

“Jika alasannya adalah sebuah artikel, jika kita memenuhi syarat, kualitasnya tidak lebih dari 10, tidak lebih dari 15%, yang tidak banyak berarti,” kata kebingungan itu.

Periksa berita dan artikel lainnya di Google News dan WA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *