
Perbandingan Yield Dividen Bank BUMN (BBRI, BMRI, BBNI, dan BBTN)
PORTALTERKINI, Jakarta-State Banks atau Bank Negara Bagian memperbaiki distribusi dividen untuk pemegang saham dalam RUPS mulai Senin (24/24/2025) (26/26/2025) (26/26/2025). Berikut ini membandingkan pendapatan dividen dalam Bri, Temple Bank, BNI dan Btn.
Bank Indonesia AGMS atau BRI (BBRI) telah memutuskan untuk mendistribusikan RP51,74 triliun atau RP343,40 per saham.
Untuk informasi, laba bersih BRI mencapai Rp 60,64 triliun pada tahun lalu. Rasio dividen adalah 85,32%dibandingkan dengan laba bersih 2024.
Sebelumnya, pada 15 Januari 2025, dividen sementara Rp135 per saham atau Rp 20,33 triliun didistribusikan. Jumlah ini akan dihitung sebagai bagian dari dividen 2024.
Oleh karena itu, dividen akhir yang diterima oleh pemegang saham senilai RP208.40 per lembar. Pada hari RUPS, harga tertutup barel dicatat pada Rp 3.610 per saham. Jadi, pendapatan dividen BBRI berada di kisaran 9,51%.
Sementara itu, sisa laba bersih tahun keuangan 2024 akan diusulkan untuk menggunakan saldo laba yang dipesan perusahaan.
Selanjutnya, Bank Temple (BMRI) mendistribusikan dividen harga RP43,5 triliun atau setara dengan 78% dari laba bersih Rp55,78 triliun. Untuk setiap saham, investor mendapatkan dividen sebesar Rp 4666.18 per saham.
Setelah perdagangan AGM ditutup atau pada hari Selasa (0/25/2025), saham BMRI ditutup pada 4.740 per saham. Dari sini, pemegang saham juga mendapatkan sekitar 9,83%kinerja dividen.
Bank Snowfrass Lainnya, Bank Indonesia (BBNI) berbasis nasional RP 3.9. Tr. Tunai penetapan harga triliun sama dengan 65% dari laba tunai atau 224% dari laba bersih, yang merupakan Rp 5..46 triliun.
Nilai dividen setara dengan Rp 374.05 per saham. Pada harga saham hari RUPS, pada hari Rabu (26/03/2025), pendapatan dividen adalah sekitar 80,80%.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) telah memutuskan untuk mendistribusikan laba bersih perusahaan sebagai dividen Rp 751,83 miliar atau 25%. Mitra juga menerima Rp 53,57 per saham.
Dalam perdagangan kemarin, BBTN ditutup pada Rp 895 per saham. Oleh karena itu, investor mendapatkan sekitar 998%dividen. Daya tarik
Inspektur bank dan siswa dari sistem pembayaran, Erianto Maditomo, menjelaskan bahwa distribusi dividen besar dapat dianggap sebagai perbankan dasar dan tanda laba, serta memberikan ketertarikan kepada investor dan organisasi ritel.
“Namun, di sisi lain, bank memiliki kemampuan untuk mengurangi posisi likuiditas internal bank, terutama jika tidak memiliki strategi dana yang jelas,” ketika dihubungi pada hari Rabu (26/03/2025), kata Ariento.
Adegan yang sama adalah bahwa analis ekuitas PT Indo Premier Seemita (IPOT) mengatakan bahwa dividen yang didistribusikan oleh penerbit bank sedikit dengan pendapatan besar dari contoh BMRI yang produksi dividennya mencapai 10% dari harga kemarin (3/25).
“Ini akan memberikan ketertarikan dan permintaan untuk saham perbankan yang mengecewakan juga akan meningkat dan pasar memiliki kemampuan untuk merespons secara positif dalam jangka pendek,” kata Dimas pada hari Rabu (26/03/2025).
Periksa berita dan artikel lainnya di Google News dan WA Channels